Saat memutuskan terjun di dunia pendidikan, pikiran dan kalbu ini selalu terasa nano-nano (manis, asam, asin, ramai rasanya). Menyenangkan sekaligus penuh tantangan, penuh harap sekaligus ngeri-ngeri sedap, bak rollercoaster yang mengaduk-aduk isi perut dan perasaan saya. Bagaimana tidak???
Bisa turut dalam mendidik generasi penerus bangsa merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya. Akan tetapi, tantangan yang ada di era ini sangat lah luar biasa. Era kemudahan fasilitas, perubahan gaya interaksi sosial di masyarakat, dan juga arus informasi yang seperti tak bersekat dan berjarak, membuat dinamika tersendiri pada para anak didik.
Bisa turut dalam mendidik generasi penerus bangsa merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya. Akan tetapi, tantangan yang ada di era ini sangat lah luar biasa. Era kemudahan fasilitas, perubahan gaya interaksi sosial di masyarakat, dan juga arus informasi yang seperti tak bersekat dan berjarak, membuat dinamika tersendiri pada para anak didik.
Saat saya berada di bangku sekolah, tantangan seorang guru adalah bagaimana setiap siswanya dapat memperoleh informasi sebanyak-banyaknya. Namun saat ini peran itu telah digantikan oleh berbagai media yang ada, mulai dari koran, televisi, media sosial, bahkan mesin pencari (misalkan google dan sejenisnya) yang selalu ada digenggaman setiap siswa. Lantas bagaimana dengan tugas dan fungsi guru saat ini???
Ketika saya masih menjadi mahasiswa, ada salah satu mata kuliah wajib yang harus diambil oleh semua mahasiswa, yaitu statistika. Dosennya nyentrik tapi juga kece, banyak mahasiswa yang antusias mengikuti kuliah beliau. Dalam salah satu pertemuan, ada satu pesan yang beliau sampaikan dan masih saya ingat sampai sekarang. Saat itu beliau berkata, "kalian sudah mahasiswa, nggak usah capek-capek menghitung disini (mata kuliah statistika), karena ini bukan pelajaran berhitung dan tugas itu bisa dilakukan kalkulator atau SPSS. Tugas kalian adalah MEMAHAMI simbol dan angka yang ada. Saat menjawab soal kalian bisa menuliskan angka berapapun, yang penting kalian tahu asal-usulnya, bagaimana didapat angka itu, dan artinya, maka tidak ada orang yang bisa menyalahkan jawaban kalian."
Setidaknya ada empat hal yang saya tangkap dari pesan beliau.
Pertama, seiring perkembangan IPTEK, maka akan banyak hal yang diciptakan untuk mempermudah kerja manusia. Hal tersebut sangat sah dan boleh-boleh saja. Namun yang tidak boleh dilupakan adalah hasil ciptaan tersebut merupakan "ALAT" untuk mempermudah kerja manusia, bukan pengganti kerja manusia. Hanya manusialah yang dapat menentukan inputnya, memahami prosesnya, dan memaknai outputnya. Manusia yang memegang kendalinya, bukan sebaliknya.
Pertama, seiring perkembangan IPTEK, maka akan banyak hal yang diciptakan untuk mempermudah kerja manusia. Hal tersebut sangat sah dan boleh-boleh saja. Namun yang tidak boleh dilupakan adalah hasil ciptaan tersebut merupakan "ALAT" untuk mempermudah kerja manusia, bukan pengganti kerja manusia. Hanya manusialah yang dapat menentukan inputnya, memahami prosesnya, dan memaknai outputnya. Manusia yang memegang kendalinya, bukan sebaliknya.
Kedua, apapun yang ada dihadapan kita, pahami dahulu latar belakangnya. Jika yang ada dihadapan kita benda, pahami sifat-sifatnya, sehingga tidak salah dalam memperlakukan benda tersebut. Misalnya, letakkan es batu didalam cooler box bukan dibawah terik matahari langsung karena es batu akan cepat mencair jika terkena panas, sehingga kita dapat merasakan manfaat es batu lebih lama. Demikian juga saat memperoleh informasi, asal usul dan sifat informasi tersebut harus dipahami. Apakah informasi merupakan science atau common sense, umum atau rahasia, penting atau biasa, dan seterusnya.
Ketiga, proses merupakan bagian penting yang juga harus dipahami. Misalkan perbandingan es batu dengan teh manis saat akan membuat es teh, akan sangat menentukan hasilnya. Es batu masih dengan sifatnya yang dingin dan mudah mencair, serta teh manis yang menurut kita enak, saat dicampurkan jika terlalu banyak teh, maka rasa dingin dari es batu akan berkurang. Tetapi jika terlalu banyak es batunya, maka rasa es tehnya akan cenderung hambar. Demikian juga informasi, bagaimana tempat, situasi, maupun konteksnya harus dipahami secara menyeluruh agar informasi yang kita terima utuh dan ditempatkan pada porsi yang sesuai.
Keempat, output juga harus dipahami dan dimaknai sesuai dengan asal usul dan prosesnya. Misalkan, saat es teh yang diminum terasa hambar, bukan salah es batu maupun salah teh manisnya, tetapi prosesnya yang membuat output belum sesuai selera.
Es teh yang cenderung hambar juga tidak selalu mendapat "peringkat" nggak enak. Pada kelompok tertentu, es teh ini akan sangat nikmat.
Demikian juga dengan informasi, jika diinfokan bahwa angsa berwarna putih, maka jika suatu saat ditemukan ada angsa yang berwarna merah bukan berarti hewan tersebut bukan angsa.
Ketika kita memahami asal usul, proses, dan output yang ada maka akan dapat diputuskan apakah yang dikatakan angsa merah itu adalah angsa atau hewan lain.
Memandang segala sesuatu dengan kacamata yang sesuai, memerlukan latihan dan pendewasaan yang kontinyu.
Oleh karena itu, tugas dan fungsi guru saat ini bukan lagi hanya sebagai penyampai hasil pemikiran, tetapi yang paling penting adalah membangun cara berfikir. Bagaimana para anak didik memahami, mengolah, dan memaknai suatu informasi akan sangat penting karena hal ini akan tercermin dalam tingkah laku mereka.
Cara berfikir ini yang akan menjadi pegangan saat diserbu ratusan bahkan ribuan informasi. Anak-anak akan semakin kritis dalam melihat, memakai kacamata yang sesuai saat memandang. Semakin bijaksana dalam menanggapi, menempatkan segala sesuatu sesuai porsi. Lebih selektif dan memiliki dasar saat mengikuti suatu informasi, bukan hanya sekedar ikut kanan atau ikut kiri.
Hal ini juga dapat menjawab tantangan 'HOAX' diera keterbukaan informasi, mengeliminasi upaya pengeroposan moral, serta upaya melunturkan jiwa agamis dan nasionalisme dalam diri para anak didik.
Selamat Berkarya Rekan Semua
Apa yang kita lakukan hari ini
Akan menghiasi nyala lilin perjuangan bangsa ini
Jangan biarkan nyala lilin itu padam di generasi yang kita pegang
Biarkan nyala lilin itu menjadi api unggun yang membakar semangat para generasi muda untuk terus berjuang dan berkarya

Comments
Post a Comment