Skip to main content

Kelana Malam Part 2 (Asal Usul)

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri"

Sepenggal pesan Bung Karno ini ternyata belum benar-benar saya pahami maknanya. Sejak pertama kali mendengar hingga beberapa saat lalu saya mengartikannya sebatas harus menghargai jasa para pahlawan yang telah berjuang jiwa dan raga, berjuang moril dan materiil sampai berhasil mengumandangkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Namun, ternyata lebih dari itu....

Dalam budaya Jawa ada petuah yang berbunyi "Ojo dadi kacang lali lanjaran" atau dalam pepatah Bahasa Indonesia "Jangan jadi kacang yang lupa pada kulitnya". Keduanya mengingatkan kita agar selalu ingat dari mana kita berasal atau dibesarkan.

Obrolan kali ini, tak lain dan tak bukan merupakan renungan tentang "asal usul" baik sebagai pribadi, anak, kelompok, masyarakat, lembaga, bangsa, maupun makhluk...
Tentang dari mana kita berawal, bagaimana kita berproses, hingga dimana posisi kita saat ini.

Cerita sejarah bukan untuk dihafalkan, namun perlu dimaknai...

Sifat, sikap, situasi, penyelesaian, pengembangan, cara berfikir, kebijaksanaan, kegigihan, keberanian, kesantunan adalah sekelumit hal yang harusnya mampu diresapi oleh setiap yang ada disaat ini.

Ibarat sebuah tangga, generasi saat ini berada di tengah-tengahnya. Ia dapat menengok kebawah, kebagian masa lalu. Ia juga dapat mengarahkan pandangannya keatas, kebagian masa depan. Menghayati setiap peran, meresapi setiap peristiwa, dan mengolahnya menjadi dasar capaian selanjutnya, itulah perkembangan.

Perkembangan bukan hanya bicara tentang dari kecil menjadi besar....
Perkembangan adalah melanjutkan sebuah proses dengan acuan kebaikan yang dimiliki sebelumnya.

GenZ sebagai gambaran generasi saat ini yang melek informasi. Media informasi juga terus tumbuh dan berkembang layaknya hujan badai. Informasi tak lagi terkotak-kotak. Tampilan interaktif yang mengkombinasikan informasi audio dan visual berlomba-lomba disuguhkan. Sehingga rasa dari indrawi kembali mendapatkan porsi yang lebih banyak ketika menetapkan acuan.

Indrawi menangkap penampakan informasi (visual dan auditori), namun belum menyentuh sisi esensi maupun eksistensi.

Ketika penetapan acuan berdasarkan indrawi, maka kedangkalan berfikir sebagai hasil. Esensi dilihat dari seberapa banyak indra terstimulasi. Eksistensi diukur dari seberapa banyak dinikmati. Sedangkan esensi dan eksistensi dari materi itu sendiri tak lagi disentuh.

Jika penetapan acuan berdasarkan indrawi....
Apakah capaian saat ini benar-benar sebuah kemajuan ataukah justru kemunduran???
Apakah mampu kemajuan ini tetap sebagai sebuah kemajuan, yang akan lebih membesarkan serta mendewasakan????
Ataukah justru akan menjebak diri di lingkup sensasi indrawi.....

Comments

Popular posts from this blog

Id, Ego, Superego

Sigmund Freud (1856-1939), seorang tokoh psikologi yang memperkenalkan pendekatan psikoanalisa dalam memahami dinamika manusia. Selain kesadaran ( consciousness ), Freud juga memperkenalkan teori ketidaksadaran ( unconsciousness ) yang sebenarnya merupakan bagian terbesar dari diri manusia.  Slip of the tongue , memori, dan mimpi dipandang sebagai perwujudan dari  unconsciousness  yang muncul kepermukaan. Oleh karena itu, teori ini melengkapi pemahaman para ahli dikemudian hari dalam memahami dinamika manusia. Secara terperinci, Freud menjabarkan struktur kepribadian manusia kedalam tiga bagian, yaitu  Id ,  Ego , dan  Superego . Id  ( Das Es ) adalah sumber utama energi psikis yang ada sejak manusia dilahirkan. Sebagaimana dalam hukum kekekalan energi (energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan tetapi dapat berubah dari bentuk satu ke bentuk yang lain), maka energi yang ada dalam  Id juga demikian. Energi Id  dapat meningkat...

Berdiri Diantara Hingar Bingar Informasi

Saat memutuskan terjun di dunia pendidikan, pikiran dan kalbu ini selalu terasa nano-nano (manis, asam, asin, ramai rasanya). Menyenangkan sekaligus penuh tantangan, penuh harap sekaligus ngeri-ngeri sedap, bak rollercoaster yang mengaduk-aduk isi perut dan perasaan saya. Bagaimana tidak??? Bisa turut dalam mendidik generasi penerus bangsa merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya. Akan tetapi, tantangan yang ada di era ini sangat lah luar biasa. Era kemudahan fasilitas, perubahan gaya interaksi sosial di masyarakat, dan juga arus informasi yang seperti tak bersekat dan berjarak, membuat dinamika tersendiri pada para anak didik. Saat saya berada di bangku sekolah, tantangan seorang guru adalah bagaimana setiap siswanya dapat memperoleh informasi sebanyak-banyaknya. Namun saat ini peran itu telah digantikan oleh berbagai media yang ada, mulai dari koran, televisi, media sosial, bahkan mesin pencari (misalkan google dan sejenisnya) yang selalu ada digenggaman setiap siswa. Lantas b...

Kelana Malam (Part 1)

Hiruk pikuk hari ini, membuat emosi seperti kereta luncur tanpa kemudi. Naik turun silih berganti tanpa bisa berhenti. Satu, dua, tiga rencana, tak semua berjalan seperti dugaan. Ingin merajut kehangatan, benang kusut yang sampai ditangan. Senyum persahabatan disambut kesalah fahaman. Kemarahan diujung tanduk, ketulusan menggenggam tangan, menguatkan. Dalam lapang, ada begitu banyak pilihan yang dijajakan. Dalam sempit, tetap ada dua pilihan yang bisa diputuskan. Tidak ada kata terdesak, ketika nafas masih mengiringi raga. Saat diri penuh sesak, berdiam lebih bijaksana. Memberi ruang diri untuk meresapi, menimbang, dan memutuskan. Bukanlah suatu kelambatan. Andai kita berfikir sederhana dengan positif Terlebih dahulu melihat dan mendengar dari pada berucap. Menerima, mengolah, dan mengeluarkan dengan santun Memandang satu hal dari satu kacamata yang mendasarinya Dan meletakkan segala sesuatunya pada posisinya Alangkah indah jalinan kehidupan ini... Selamat mel...