Skip to main content

Survive with Choice

by pixabay

Jika perjalanan kita diibaratkan sebagai sebuah buku,maka kondisi pandemi Covid-19 merupakan Bab baru dalam buku kita. Pandemi ini menempatkan setiap orang pada posisi yang sama, yaitu kita mesti memulai Bab baru, walaupun kita merasa belum menuntaskan Bab sebelumnya.

Mungkin sebagian dari kita telah mempersiapkan untuk masuk pada Bab baru namun belum membayangkan jika akan secepat ini akselerasinya. Sebagian lagi mungkin masih menelaah Bab sebelumnya, sehingga memerlukan usaha keras untuk membuat gayutan yang indah dalam mukadimah Bab baru ini. 

Lantas bagaimana memulainya?

Choice (Pilihan) .....

Kita mulai dengan melihat pilihan-pilihan yang tersedia.

Sudah sampai manakah tulisan kita pada bab sebelumnya? Topik apa saja yang masih relevan dan topik mana yang kurang relevan?

Topik relevan merupakan segala hal yang kita miliki untuk melanjutkan cerita. Dapat berupa kemampuan, pengetahuan, relasi, sikap, kesempatan, dan segala hal yang dapat mendukung.

Sedangkan topik yang kurang relevan adalah segala hal yang yang akan menghambat kelangsungan cerita kita. Apakah akan kita buang atau kita tingkatkan, semua bergantung pada pilihan cerita seperti apa yang akan kita lanjut tuliskan.

Fokus melihat apa yang kita miliki dan bagaimana meningkatkannya, akan membantu kita menemukan lebih banyak pilihan yang dapat kita lakukan, dari pada meratapi apa yang tidak kita miliki.

Sampai dimanapun cerita yang telah kita tulis, kita tetap memiliki pilihan-pilihan untuk melanjutkan cerita pada bab baru ini. Memilih dengan bijak adalah ketika pilihan kita memberikan resiko terkecil dan manfaat terbesar baik bagi diri sendiri maupun sekitar. Dan yakinlah akan selalu ada pilihan-pilihan yang dapat kita pilih, hingga nanti kita tutup usia.

Comments

Popular posts from this blog

Id, Ego, Superego

Sigmund Freud (1856-1939), seorang tokoh psikologi yang memperkenalkan pendekatan psikoanalisa dalam memahami dinamika manusia. Selain kesadaran ( consciousness ), Freud juga memperkenalkan teori ketidaksadaran ( unconsciousness ) yang sebenarnya merupakan bagian terbesar dari diri manusia.  Slip of the tongue , memori, dan mimpi dipandang sebagai perwujudan dari  unconsciousness  yang muncul kepermukaan. Oleh karena itu, teori ini melengkapi pemahaman para ahli dikemudian hari dalam memahami dinamika manusia. Secara terperinci, Freud menjabarkan struktur kepribadian manusia kedalam tiga bagian, yaitu  Id ,  Ego , dan  Superego . Id  ( Das Es ) adalah sumber utama energi psikis yang ada sejak manusia dilahirkan. Sebagaimana dalam hukum kekekalan energi (energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan tetapi dapat berubah dari bentuk satu ke bentuk yang lain), maka energi yang ada dalam  Id juga demikian. Energi Id  dapat meningkat...

Berdiri Diantara Hingar Bingar Informasi

Saat memutuskan terjun di dunia pendidikan, pikiran dan kalbu ini selalu terasa nano-nano (manis, asam, asin, ramai rasanya). Menyenangkan sekaligus penuh tantangan, penuh harap sekaligus ngeri-ngeri sedap, bak rollercoaster yang mengaduk-aduk isi perut dan perasaan saya. Bagaimana tidak??? Bisa turut dalam mendidik generasi penerus bangsa merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya. Akan tetapi, tantangan yang ada di era ini sangat lah luar biasa. Era kemudahan fasilitas, perubahan gaya interaksi sosial di masyarakat, dan juga arus informasi yang seperti tak bersekat dan berjarak, membuat dinamika tersendiri pada para anak didik. Saat saya berada di bangku sekolah, tantangan seorang guru adalah bagaimana setiap siswanya dapat memperoleh informasi sebanyak-banyaknya. Namun saat ini peran itu telah digantikan oleh berbagai media yang ada, mulai dari koran, televisi, media sosial, bahkan mesin pencari (misalkan google dan sejenisnya) yang selalu ada digenggaman setiap siswa. Lantas b...

Kelana Malam (Part 1)

Hiruk pikuk hari ini, membuat emosi seperti kereta luncur tanpa kemudi. Naik turun silih berganti tanpa bisa berhenti. Satu, dua, tiga rencana, tak semua berjalan seperti dugaan. Ingin merajut kehangatan, benang kusut yang sampai ditangan. Senyum persahabatan disambut kesalah fahaman. Kemarahan diujung tanduk, ketulusan menggenggam tangan, menguatkan. Dalam lapang, ada begitu banyak pilihan yang dijajakan. Dalam sempit, tetap ada dua pilihan yang bisa diputuskan. Tidak ada kata terdesak, ketika nafas masih mengiringi raga. Saat diri penuh sesak, berdiam lebih bijaksana. Memberi ruang diri untuk meresapi, menimbang, dan memutuskan. Bukanlah suatu kelambatan. Andai kita berfikir sederhana dengan positif Terlebih dahulu melihat dan mendengar dari pada berucap. Menerima, mengolah, dan mengeluarkan dengan santun Memandang satu hal dari satu kacamata yang mendasarinya Dan meletakkan segala sesuatunya pada posisinya Alangkah indah jalinan kehidupan ini... Selamat mel...